Kesedihan Sebelum Kebahagiaan
Di suatu Sekolah Dasar
(SD) Pelita Bangsa, terdapat seorang anak bernama Allicya Anastasya atau biasa
dipanggil Alice. Dia termasuk orang kaya. Orang tua dan kakaknya sangat
menyayanginya, termasuk guru-gurunya di sekolah. Karena dia pandai dan sifatnya
berbeda dengan teman-temannya. Dia sangat pendiam dan sangat baik. Walaupun dia
sangat baik, dia tidak mempunyai teman, dia sangat kesepian di sekolahnya.
Awalnya, Alice memiliki banyak teman. Namun,
teman-teman Alice terpengaruh oleh Devi Alifa atau biasa dipanggil Devi. Devi
mempengaruhi teman-teman Alice karena dia iri terhadap Alice, karena awalnya
Devi tidak memiliki teman karena sifatnya kurang baik dan kurang disukai
teman-temannya. Entah mengapa teman-temannya
takut kepada Devi. Padahal Devi tidak terlalu menonjol dikelasnya. Tak
sepandai Alice, tak sekaya Alice, tak sebaik Alice, juga tak secantik Alice.
Mungkin karena Devi kasar, sehingga teman-temannya takut jika melawannya.
Sejak kelas 4 Alice sudah sangat kesepian.
Namun ia tak berani mengadu ataupun mencurahkan isi hatinya kepada siapapun
karena ia sangat pendiam dan sangat tertutup. Dia tak pernah menangis di depan
orang-orang. Dia selalu berusaha tegar walau sebenarnya dia sangat rapuh.
Tapi unutunglah Alice masih memiliki keluarga
yang bahagia dan sangat menyayanginya. Saat Alice meminta sesuatu kepada ayah
dan bundanya, seringkali dikabulakan karena ia sangat penurut dan juga jarang
sekali meminta sesuatu kecuali dalam keadaan terdesak. Hal ini membuat Devi
menjadi semakin iri kapada Alice karena ia sangat menginginkan keluarga yang
utuh dan bahagia. Ayah dan ibunya bercerai sejak ia kecil. Dia sangat
menginginkan orang tua seperti Alice yang selalu menuruti keinginannya dan
sangat menyayanginya.
Devi yang sedang berada di kamarnya sedang
terisak.
"Tuhan! Ini tak adil! Kenapa
selalu Alice? Aku ingin seperti Alice yang terihat sangat bahagia! Ini tak
adil! Kalau begitu, aku akan membuat Alice tak bahagia seperti sekarang ini.
Tunggu saja Allicya Anastsya! Ucapkan selamat tinggal pada kebahagiaanmu
sekarang! Hahaha!" ucap Devi di kamarnya sambil menangis seperti protes
dan berambisi untuk menghancurkan kebahagiaan Alice.
***
Saat kelas 6, sikap Devi semakin menjadi-jadi.
Bermacam-macam cara sudah ia lakukan. Dan kebanyakan cara yang ia lakukan
berhasil. Ia merasa menang melihat Alice sangat terpuruk. Karena ia berpikir
jika dengan keadaan mental Alice saat ini, Alice tidak akan maksimal
mengerjakan ujian seperti biasanya.
Namun, kelas 6 adalah waktu yang sangat
ditunggu-tunggu oleh Alice.
"Syukurlah waktu cepat berlalu! Tinggal 1 tahun lagi ini semua akan berakhir. Walaupun aku harus menjalani 1 tahun ini tanpa teman, tapi aku masih punya keluarga yang menyayangiku. Lagipula, sudah 2 tahun aku menjalani sekolah tanpa teman. Dan aku tak apa-apa. Terima kasih Ya Tuhan!" ucap Alice dalam hati di balkon kamarnya sambil tersenyum dan memandangi bintang-bintang yang menghiasi langit malam yang gelap.
"Alice, kamu belum tidur sayang?" tanya bunda Alice lembut.
"Iya, ini Alice juga mau tidur, bun," sahut Alice sambil tersenyum.
Keesokan harinya di sekolah, saat Alice hendak masuk ke kelas tiba-tiba langkahnya terhenti akibat ucapan Devi dan teman-temannya.
"Eh, teman-teman lihat! Orang kaya yang sombong baru datang. Mentang-mentang punya segalanya sombong banget. Mungkin dia nggak mau bergaul sama kita yang menurutnya nggak selevel sama dia!" ucap Devi lancang.
Alice kemudian langsung masuk ke kelas dan meletakkan tas nya lalu duduk di bangkunya.
"Ya Tuhan, kapan aku menyombongkan diri? Aku tidak menjauh dari mereka. Justru mereka yang tidak mau berteman denganku! Ini tidak adil! Ya Tuhan, tolong kuatkan aku!" ucap Alice dalam hati yang hampir saja menangis.
Saat Alice pulang, dia tak seperti biasanya. Biasanya selalu terukir senyuman di wajahnya yang cantik itu. Alice langsung memasuki kamarnya. Bundanya pun mendekatinya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya bunda yang penasaran dengan lembut.
"Alice nggak apa-apa kok, bun," jawab Alice sambil memaksakan sebuah senyuman mengukir di wajahnya.
"Ya sudah. Kalau kamu punya masalah, cerita ya sama bunda!" ucap bunda sambil memgelus rambut Alice.
Alice hanya mengangguk dan tersenyum.
"Syukurlah waktu cepat berlalu! Tinggal 1 tahun lagi ini semua akan berakhir. Walaupun aku harus menjalani 1 tahun ini tanpa teman, tapi aku masih punya keluarga yang menyayangiku. Lagipula, sudah 2 tahun aku menjalani sekolah tanpa teman. Dan aku tak apa-apa. Terima kasih Ya Tuhan!" ucap Alice dalam hati di balkon kamarnya sambil tersenyum dan memandangi bintang-bintang yang menghiasi langit malam yang gelap.
"Alice, kamu belum tidur sayang?" tanya bunda Alice lembut.
"Iya, ini Alice juga mau tidur, bun," sahut Alice sambil tersenyum.
Keesokan harinya di sekolah, saat Alice hendak masuk ke kelas tiba-tiba langkahnya terhenti akibat ucapan Devi dan teman-temannya.
"Eh, teman-teman lihat! Orang kaya yang sombong baru datang. Mentang-mentang punya segalanya sombong banget. Mungkin dia nggak mau bergaul sama kita yang menurutnya nggak selevel sama dia!" ucap Devi lancang.
Alice kemudian langsung masuk ke kelas dan meletakkan tas nya lalu duduk di bangkunya.
"Ya Tuhan, kapan aku menyombongkan diri? Aku tidak menjauh dari mereka. Justru mereka yang tidak mau berteman denganku! Ini tidak adil! Ya Tuhan, tolong kuatkan aku!" ucap Alice dalam hati yang hampir saja menangis.
Saat Alice pulang, dia tak seperti biasanya. Biasanya selalu terukir senyuman di wajahnya yang cantik itu. Alice langsung memasuki kamarnya. Bundanya pun mendekatinya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya bunda yang penasaran dengan lembut.
"Alice nggak apa-apa kok, bun," jawab Alice sambil memaksakan sebuah senyuman mengukir di wajahnya.
"Ya sudah. Kalau kamu punya masalah, cerita ya sama bunda!" ucap bunda sambil memgelus rambut Alice.
Alice hanya mengangguk dan tersenyum.
***
Sudah
6 bulan berlalu, namun Alice diam saja tak mau mengaku pada bundanya. Bunda tak
tega jika Alice terus bersedih. Bundanya akhirnya langsung turun tangan mencari
tahu masalah yang dialami Alice. Setelah bunda Alice mengantarkan Alice, bunda
Alice masuk ke ruang guru unutuk berbicara dengan wali kelas Alice yaitu Bu
Marina.
"Permisi! Di sini ada Bu Marina?" tanya bunda di ambang pintu ruang guru.
"Ada bu! Silahkan masuk! Bu Marina ada di mejanya," jawab Pak Ilman sopan.
"Terima kasih Pak Ilman," ucap bunda.
"Iya, sama-sama bu," sahut Pak Ilman.
"Permisi Bu Marina!" ucap bunda tersenyum.
"Iya, bu! Silahkan duduk!" ucap Bu Marina.
"Terima kasih Bu!" ucap bunda lalu duduk.
"Jadi, ada apa bu? Ada yang ingin dibicarakan?" tanya Bu Marina memulai pembicaraan.
"Permisi! Di sini ada Bu Marina?" tanya bunda di ambang pintu ruang guru.
"Ada bu! Silahkan masuk! Bu Marina ada di mejanya," jawab Pak Ilman sopan.
"Terima kasih Pak Ilman," ucap bunda.
"Iya, sama-sama bu," sahut Pak Ilman.
"Permisi Bu Marina!" ucap bunda tersenyum.
"Iya, bu! Silahkan duduk!" ucap Bu Marina.
"Terima kasih Bu!" ucap bunda lalu duduk.
"Jadi, ada apa bu? Ada yang ingin dibicarakan?" tanya Bu Marina memulai pembicaraan.
Bunda Alice mulai menceritakan
masalah yang terjadi.
"Jadi begini Bu, akhir-akhir lebih tepatnya sejak 6 bulan yang lalu sikap Alice berubah," ungkap bunda Alice.
"Berubah bagaimana, bu?" tanya Bu Marina bingung.
"Ya, jadi sangat pendiam begitu," ucap bunda.
"Bukankah Alice memang pendiam?" tanya Bu Marina.
"Dia memang pendiam saat di sekolah. Tapi, di rumah dia sosok yang sangat ceria," jelas bunda.
"Apakah dia punya masalah?" tanya Bu Marina.
"Itu dia masalahnya Bu. Alice tidak mau mengaku. Sejak 6 yang lalu Alice selalu terlihat sedih dan sangat diam. Juga lebih sering menghabiskan waktu di kamarnya. Saya tidak habis pikir Bu. Saya bingung harus bagaimana agar Alice mau mengaku. Saya takut dengan keadaan mentalnya sekarang ini dapat berengaruh pada ujiannya. Jika nilainya menurun, saya takut jika keadaan mentalnya akan lebih menurun daripada sekarang. Saya minta tolong agar Bu Marina dapat mencari tahu masalah Alice!" jelas bunda penjang lebar.
"Baik, Bu. Akan saya usahakan!" ucap Bu Marina.
"Terima kasih banyak, Bu!" ucap bunda agak lega.
"Iya, sama-sama, bu! Jika ada kabar akan saya beritahu," sahut Bu Marina.
Bunda hanya tersenyum dan mengangguk lalu meninggalkan ruangan dan pulang.
"Jadi begini Bu, akhir-akhir lebih tepatnya sejak 6 bulan yang lalu sikap Alice berubah," ungkap bunda Alice.
"Berubah bagaimana, bu?" tanya Bu Marina bingung.
"Ya, jadi sangat pendiam begitu," ucap bunda.
"Bukankah Alice memang pendiam?" tanya Bu Marina.
"Dia memang pendiam saat di sekolah. Tapi, di rumah dia sosok yang sangat ceria," jelas bunda.
"Apakah dia punya masalah?" tanya Bu Marina.
"Itu dia masalahnya Bu. Alice tidak mau mengaku. Sejak 6 yang lalu Alice selalu terlihat sedih dan sangat diam. Juga lebih sering menghabiskan waktu di kamarnya. Saya tidak habis pikir Bu. Saya bingung harus bagaimana agar Alice mau mengaku. Saya takut dengan keadaan mentalnya sekarang ini dapat berengaruh pada ujiannya. Jika nilainya menurun, saya takut jika keadaan mentalnya akan lebih menurun daripada sekarang. Saya minta tolong agar Bu Marina dapat mencari tahu masalah Alice!" jelas bunda penjang lebar.
"Baik, Bu. Akan saya usahakan!" ucap Bu Marina.
"Terima kasih banyak, Bu!" ucap bunda agak lega.
"Iya, sama-sama, bu! Jika ada kabar akan saya beritahu," sahut Bu Marina.
Bunda hanya tersenyum dan mengangguk lalu meninggalkan ruangan dan pulang.
Bu Marina membicarakan hal ini dengan Pak
Illman. Pak Ilman dapat mengerti masalah ini. Lalu beliau membicarakan ini
dengan murid kelas 6 secara baik-baik. Namun, hal ini dapat menjadi kesempatan bagi
Devi untuk membuat Alice sedih. Saat jam istrahat, Devi segera melakukan
rencananya.
"Eh, anak mama lewat nih!" ucap Devi dengan keras dan dengan nada sinis.
"Apa maksudmu anak mama?" tanya Vina bingung.
"Ya anak manja gitu. Sedikit-sedikit mengadu!" ucap Devi dengan keras.
Alice tak tahu harus bagaimana. Dia hanya tertunduk dan langsung masuk kelas. Waktu istirahat ia habiskan sendiri tiap harinya sejak kelas 4.
"Eh, anak mama lewat nih!" ucap Devi dengan keras dan dengan nada sinis.
"Apa maksudmu anak mama?" tanya Vina bingung.
"Ya anak manja gitu. Sedikit-sedikit mengadu!" ucap Devi dengan keras.
Alice tak tahu harus bagaimana. Dia hanya tertunduk dan langsung masuk kelas. Waktu istirahat ia habiskan sendiri tiap harinya sejak kelas 4.
***
Saat ini, kelas 6 sedang kehilangan uang kas
yang lumayan banyak. Bendaharanya adalah Devi. Devi tak mau disalahkan oleh
teman-temannya. Sehingga dia memfitnah Alice.
"Hei, kalian jangan salahkan aku dulu! Siapa tahu Alice yang mengambilnya," ucap Devi mengada-ada.
"Hah? Alice? Tidak mungkin!" bantah Nia.
"Mungkin saja kan? Kita kehilangan uang kemarin. Dan lihat, alat-alat tulis dan buku-buku Alice sangat lengkap! Mungkin dia melakukan ini karena dia iri melihat kita! Dia ingin menghancurkan kebahagiaan kita!" ungkap Devi.
Alice mengetahui semua yang dikatakan Devi. Hati Alice hancur berkeping-keping karena ia telah difitnah.
"Hei, kalian jangan salahkan aku dulu! Siapa tahu Alice yang mengambilnya," ucap Devi mengada-ada.
"Hah? Alice? Tidak mungkin!" bantah Nia.
"Mungkin saja kan? Kita kehilangan uang kemarin. Dan lihat, alat-alat tulis dan buku-buku Alice sangat lengkap! Mungkin dia melakukan ini karena dia iri melihat kita! Dia ingin menghancurkan kebahagiaan kita!" ungkap Devi.
Alice mengetahui semua yang dikatakan Devi. Hati Alice hancur berkeping-keping karena ia telah difitnah.
Saat Alice pulang, dia langsung masuk ke kamarnya. Dia langsung meletakkan tas dan merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Ya Tuhan, kenapa aku difitnah seperti ini? Ya Tuhan... apa salahku? Ini tak adil! Apa… apa ini hukuman bagiku? Jika iya, apa salahku? Apa salahku kepada mereka? Aku tak pernah mengadu pada bunda. Aku tak merasa pernah menyombongkan diri. Bahkan aku tak pernah menyentuh uang kas kelas, apalagi mencurinya. Ya Tuhan, apa Kau benci padaku? Tapi kenapa?" ucap Alice dalam hati sambil menangis.
Keesokan harinya di sekolah, Alice dihujam
berbagai cibiran yang semakin membuat hatinya hancur.
"Hei Allicya Anastasya! Cepat kembalikan uang kami!" ucap Devi.
"Demi Tuhan Devi! Aku bahkan tak pernah menyentuh uang kas!" balas Alice meyakinkan.
"Halah! Kamu bohong kan?" ucap Devi tak mau kalah.
"Demi Tuhan Dev! Tolong, untuk kali ini saja percaya padaku!" sahut Alice yang menahan air matanya agar tidak menetes.
"Aku tak percaya dan tak akan pernah percaya padamu Allicya Anastasya!" ucap Devi.
"Tolong Dev! Kumohon!" mohon Alice hampir menangis.
"Baiklah kalau tidak mau mengaku dan mengganti uang kami. Tapi ingat, hal ini akan selalu kami ingat! Dasar! Orang kaya tapi pelit! Huh!" ucap Devi lalu meninggalkan Alice.
Alice hanya bisa diam.
"Hei Allicya Anastasya! Cepat kembalikan uang kami!" ucap Devi.
"Demi Tuhan Devi! Aku bahkan tak pernah menyentuh uang kas!" balas Alice meyakinkan.
"Halah! Kamu bohong kan?" ucap Devi tak mau kalah.
"Demi Tuhan Dev! Tolong, untuk kali ini saja percaya padaku!" sahut Alice yang menahan air matanya agar tidak menetes.
"Aku tak percaya dan tak akan pernah percaya padamu Allicya Anastasya!" ucap Devi.
"Tolong Dev! Kumohon!" mohon Alice hampir menangis.
"Baiklah kalau tidak mau mengaku dan mengganti uang kami. Tapi ingat, hal ini akan selalu kami ingat! Dasar! Orang kaya tapi pelit! Huh!" ucap Devi lalu meninggalkan Alice.
Alice hanya bisa diam.
***
5 bulan berlalu. Mentari mulai menampakkan
dirinya dengan tersenyum menerangi dunia. Hari yang ditunggu Alice tiba. 'Ujian
Nasional'. Alice berangkat dengan hati yang berbunga-bunga dan juga tak lupa
berdoa. Alice agak gugup dengan UN pertamanya. Tapi dia yakin mendapat hasil
yang memuaskan.
3 hari telah berlalu dan UN telah selesai.
Setelah Alice menunggu pengumuman, Alice agak kecewa karena tak mendapat nilai
UN terbaik. Namun rasa kecewa itu hilang karena Alice tetap mendapat nilai
terbaik pada nilai akhirnya. Alice sangat beruntung karena ia dapat masuk ke
SMP favorit di kotanya, ‘SMPN Harapan Bangsa’.
Devi sekarang benar-benar malu pada dirinya
sendiri karena yang mencuri uang kas adalah temannya sendiri yaitu Vina. Ia
benar-benar malu karena semua orang sudah mengetahui kalau Devi menuduh Alice
mencuri uang kas. Devi tak tahu harus bagaimana sekarang. Dia malu orang yang selama ini dia
jelek-jelekkan di depan semua orang namanya telah harum kembali. Justru nama
Devi yang sekarang jatuh. Devi sekarang
tak pernah berani untuk menyapa ataupun hanya menatap wajah Alice karena rasa
malu dan menyesal yang dirasakannya begitu besar. Dan Devi akhirnya tak pernah
menampakkan dirinya di hadapan Alice.
***
Alice sekarang sangat bahagia dengan kehadiran
teman dan juga sahabat-sahabatnya yang sangat menyayanginya. Awalnya, Alice
takut kejadian di SD dulu akan terulang kembali di SMP. Tapi ternyata yang
ditakutkan Alice sama sekali tidak terjadi. Justru sebaliknya, kebahagiaan yang
teramat besar yang sekarang ini dirasakan Alice. Hidup Alice sekarang terasa
lengkap dengan adanya keluarga, teman, dan sahabat yang sangat menyayanginya.
Alice
sekarang berada di balkon kamarnya sambil melihat indahnya langit mentari
senja.
“Terima kasih Ya Tuhan. Engkau
telah memberikan kebahagiaan yang sangat besar. Aku yakin, Engkau tak akan
menguji hamba-Mu melebihi kemampuan hamba-Mu. Dan ketika hamba-Mu mampu melalui
ujian yang Engkau berikan, Engkau pasti akan memberikan hadiah berupa
kebahagiaan lebih dari yang dibayangkan. Sekali lagi terima kasih Ya Tuhan.
Kebahagiaan ini akan lebih berarti dan terasa jika sebelumnya aku tak merasakan
kebahagiaan. Terima kasih atas kebahagiaan yang telah Engkau berikan setelah
aku merasakan kesedihan yang teramat mendalam. Terima kasih!” batin Alice
dengan wajah bahagia dengan senyuman manis yang terukir di wajahnya yang
cantik.
~Selesai~